Rascal Does Not Dream of Bunny Girl Senpai – The Complete Season One

Anime dengan judul asli Seishun Buta Yaro (disingkat Aobuta) ini pertama kali tayang di Winter 2018 lalu. Ia diangkat dari Light Novel karya Hajime Kamoshida dan sampai sekarang masih berlanjut (diterbitkan sampai sepuluh volume, dengan volume terakhir baru saja terbit bulan Februari 2020 lalu). Season pertama dari anime Aobuta ini mencakup cerita dari volume pertama hingga volume kelimanya. Dengan judul yang sedikit berbau ecchi, seperti apa sih sebenarnya cerita dari Bunny Girl Senpai ini?

Sakuta adalah seorang bocah SMU yang menyadari sebuah keanehan yang tak disadari oleh teman-temannya yang lain. Sakuta menyadari bahwa dia adalah satu-satunya pria yang bisa melihat sosok sang senior: Mai Sakurajima. Mai Sakurajima adalah seorang bintang film remaja yang tengah naik daun di dunia pertelevisian Jepang – tetapi tengah vakum dari karirnya karena mengalami kebosanan saat harus terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Akan tetapi yang aneh, saat Mai memutuskan untuk vakum, sosoknya perlahan tapi pasti seakan tak bisa dilihat oleh orang-orang sekitar. Pada awalnya hanya orang-orang asing yang tak mengenali Mai lagi, tetapi semakin lama efek itu semakin meluas dan bertambah parah – bahkan orang-orang terdekat dengan Mai seperti Ibunya sekalipun tak bisa melihatnya! Sakuta, bersama dengan Mai, sekarang berlomba dengan waktu mencari tahu apa yang menyebabkan hal ini dan bagaimana mereka bisa mengembalikan Mai jadi normal lagi.

Apa yang dialami Mai ini ternyata disebut dengan Puberty / Adolescence Syndrome, sebuah sindrom unik (diciptakan oleh anime ini) untuk menggambarkan hal-hal tak wajar yang dialami oleh para remaja di dalam serial ini – biasanya karena tekanan terselubung dalam kehidupan mereka. Bukan rahasia kan kalau masa remaja / pubertas adalah masa-masa yang paling rollercoaster dalam kehidupan seseorang? Nah, apa yang dialami oleh Mai ini kemudian akan terjadi pula pada karakter-karakter lainnya dan Sakuta (yang dulunya pernah kena Puberty Syndrome) berusaha untuk membantu mereka semua.

Karena season pertama ini mengangkat kisah dari buku pertama sampai kelima, fokus dari anime ini pun sama. Episode pertama sampai ketiga misalnya berfokus pada petualangan Sakuta dan Mai untuk kemudian beralih fokus kepada karakter gadis yang baru: junior bernama Tomoe Koga yang merupakan fokus dari episode keempat sampai keenam. Begitu seterusnya anime ini memiliki jalan cerita yang terpecah pada dua sampai tiga episode per story arc-nya. Akan tetapi yang unik, anime ini mampu memiliki benang merah yang jelas untuk menjembatani satu story arc ke story arc lain. Hubungan utama dalam anime ini: antara karakter Sakuta dan Mai pun mengalami pendalaman dari episode satu ke berikut-berikutnya.

Salah satu highlight dalam menonton anime ini memang melihat bagaimana Sakuta dan Mai menjalani kehidupan berpacaran mereka (ya, mereka berpacaran setelah selesai story arc pertama). Mengingat Mai adalah seorang gadis populer yang serba bisa dan Sakuta adalah seorang pria yang biasa-biasa saja (tambahan lagi Mai lebih tua setahun daripada Sakuta), tentu saja banyak permasalahan yang muncul dalam hubungan mereka. Akan tetapi kedewasaan keduanya dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi sungguh luar biasa. Bahkan saya sekalipun merasa bisa belajar sesuatu mengenai relationship kelar menonton anime ini.

Dengan sematan kata-kata ‘Bunny Girl Senpai’ pada judulnya saya awalnya berprasangka buruk bahwa ini adalah sebuah anime yang penuh dengan fanservice. Entah kenapa setelah menonton banyak anime-anime berkelas macam Sora Yoru no Tooi Basho, Violet Evergarden, sampai Kaguya-sama: Love is War, saya kok ilfil kalau menonton anime yang kebanyakan fanservice di dalamnya (baca: anime yang penuh dengan shot yang mengumbar dada wanita atau berbau ecchi). Dan untunglah anime ini sama sekali tidak begitu! Sakuta memang kadang dibercandai oleh temannya sebagai orang yang berpikiran ecchi, tetapi sifatnya jauh dari itu. Saya bahkan sangat suka dengan karakter Sakuta dan bagaimana sosoknya menyikapi dunia di sekelilingnya. Sakuta juga banyak dikelilingi oleh teman-teman bergender wanita tetapi anime ini tidak pernah berubah menjadi serial ala harem di mana semua wanita itu digambarkan jatuh cinta kepada Sakuta dan memperebutkan perhatiannya. Terlepas dari satu story arc di mana ada seorang gadis yang suka dengan Sakuta (dan kebetulan juga merupakan story arc paling lemah), semua cerita yang tersisa tak berkaitan dengan kisah-kisah romansa semata.

Salah satu kelemahan dalam anime yang sebenarnya memiliki banter / dialog yang bagus, karakter yang memorable, sampai soundtrack yang catchy ini adalah kualitas animasinya. Studio Cloverworks sepertinya mengerjakan anime ini dengan dana pas-pasan sehingga beberapa latar dalam anime ini terasa statis sementara penggambaran background secara keseluruhan terasa kurang variatif dan hidup. Mungkin bahkan studio ini sendiri tak menyangka bahwa anime ini akan menjadi sleeper hit, sampai-sampai sekuelnya dalam format film: Rascal Does Not Dream of a Dreaming Girl digarap dan dirilis di pertengahan tahun 2019. Oh ya, pastikan kalau kalian menonton filmnya setelah menonton season pertama anime ini sebab jalinan benang merah misteri yang diuntai sepanjang season konklusinya tak hadir di penghujung season ini melainkan di film layar lebarnya (yang juga mengcover volume keenam dan ketujuh novelnya).

Kalau kalian ingin sebuah serial anime tentang kehidupan masa remaja yang lebih serius ketimbang Kaguya-sama: Love is War tetapi tetap dipenuhi dengan karakter-karakter yang memorable dan jalan cerita yang teruntai rapi dari awal hingga akhir, I cannot recommend this anime enough for you. This is such a beautiful watch dari awal hingga akhir.

Score: 8

One comment

Leave a Reply