Rascal Does Not Dream of a Dreaming Girl

Bunny Girl Senpai adalah salah satu serial animasi yang sangat saya sukai. Saya sempat skeptis terhadap judulnya karena menyangka ini akan menjadi serial yang berbau ecchi. Siapa yang menyangka bahwa hal-hal yang berbau ecchi itu hampir tak ada sama sekali dalam serial berjumlah 13 episode ini. Karena kesuksesan serial animasinya, proyek layar lebar serial ini pun diberi lampu hijau… dan masih juga ditangani oleh CloverWorks. Apabila serial animasinya mengadaptasi novel dari volume pertama sampai kelima maka film layar lebarnya mengadaptasi cerita dari novel volume keenam dan ketujuh. Keputusan ini tepat, sebab dua volume dalam Bunny Girl Senpai ini berfokus pada satu karakter gadis: Makinahara Shoko.

Dalam serial TV season pertama Aobuta (singkatan dari serial ini) gadis bernama Makinahara Shoko adalah sosok misterius yang muncul terus menerus sebagai benang merah kisah Bunny Girl Senpai. Akan tetapi identitas dari Makinohara Shoko dan kenapa ada dua gadis (satu masih anak SD belia sementara satu lagi anak SMU seumuran dengan Sakuta dan Mai) masih belum terjawab sampai di akhir season pertama. Film Rascal Does Not Dream of a Dreaming Girl ini menjanjikan jawaban akan semua pertanyaan seputar Makinohara Shoko.

Ternyata sama seperti gadis-gadis yang ditemui oleh Sakuta lainnya, Makinohara Shoko juga memiliki Puberty Syndrome. Dalam hal ini ada alasan kenapa ada dua Makinohara Shoko, Shoko yang dewasa ternyata adalah mimpi dari Shoko yang muda, dan ia datang dari masa depan. Kenapa bisa demikian dan apa hubungan antara Shoko dewasa, Shoko muda, dan Sakuta adalah inti cerita dari film ini. Seperti biasa, Aobuta memiliki fokus pada satu orang wanita di dalam tiap ceritanya – tetapi di saat yang bersamaan juga menggunakan waktu untuk mengembangkan hubungan antara Sakuta dan Mai. Ada banyak throwback hubungan Sakuta dan Mai dalam season ini yang akan membuat kalian makin menghargai hubungan yang dimiliki keduanya.

Satu hal yang perlu saya ingatkan adalah JANGAN MENONTON FILM INI APABILA BELUM MENONTON SERIALNYA. Kalian akan sangat kebingungan. Film ini tidak seperti film-film One Piece atau Detective Conan yang lepas dan bisa berdiri sendiri tanpa menonton serial TVnya. Apabila kalian tidak pernah menonton serial Bunny Girl Senpai, menonton filmnya tidak hanya akan membuat spoiler bagi kisah serial TVnya, kalian juga tidak akan mengerti apa-apa saat menonton film ini. Tahu dengan animasi Steins;Gate? Kronologi Steins;Gate mirip dengan Bunny Girl Senpai, kalian perlu menonton serial animasinya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya, sebab kisah di layar lebar tak mau repot-repot merekap kejadian-kejadian apa saja yang terjadi di serial TVnya.

Tentu saja karena ini adalah sebuah film layar lebar, kualitas animasi CloverWorks lebih baik dibandingkan versi serial TVnya. Lagipula studio animasi muda ini sudah mulai mendapatkan lebih banyak pengalaman ketimbang saat mengerjakan serial TVnya. Patut diingat bahwa serial TV Bunny Girl Senpai adalah karya keempat dari studio ini sementara saat versi layar lebar-nya tayang mereka sudah mendapatkan jauh lebih banyak pengalaman menggarap berbagai macam serial lainnya. Dengan tambahan budget yang lebih besar, waktu yang lebih panjang dalam pengerjaan, dan pengalaman yang lebih banyak; hasilnya memang terlihat. Untuk kualitas audio visualnya tak perlu dipertanyakan, deretan seiyuu dari serial TV semuanya kembali dengan performa terbaik mereka mengisi suara tiap karakter. Acungan jempol perlu diberikan kepada tiga karakter utama serial ini: Kaito Ishikawa (Sakuta), Asami Seto (Mai), Inori Minase (Shoko) yang mampu menumpahkan berbagai emosi mereka dalam film ini. This movie is a highlight for the three of them.

Film ini bukannya tanpa kelemahan sama sekali. Plot cerita dari film ini terbilang merupakan yang paling lemah dari semua kisah Aobuta. Walaupun dengan plot device Puberty Syndrome pun berkali-kali saya memaksa diri saya mengingat bahwa “Hey, ini hanya anime” untuk menenangkan jiwa sci-fiku yang memberontak dengan begitu banyaknya inkonsistensi logika yang muncul. Hal itu terutama semakin menjadi-jadi memasuki paruh keduanya di mana plot hole yang ada semakin bertebaran. Sungguh ini adalah sebuah film yang memenangkan hati penonton karena karakter-karakternya yang luar biasa, bukan dari logika jalan ceritanya. It speaks volume on how lovable the characters in this anime are, bahwa mereka sanggup mengelevasi jalan cerita utama yang berantakan dengan dialog dan karakterisasi mereka.

Pada akhirnya, kalau kalian suka dengan serial TV Bunny Girl Senpai, pastikan untuk tidak melewatkan film layar lebar yang bisa dibilang merupakan season finale dari season pertamanya. Bahkan kalau ini dijadikan ending pamungkas dari Bunny Girl Senpai pun saya tidak akan mengeluh. It’s such a perfect ending for the series. Bagaimana dengan kalian yang belum menonton serial TV Bunny Girl Senpai? Hello? What are you doing. Cepat tonton karena kalian ketinggalan salah satu serial TV paling berkualitas yang hadir di layar kaca di dua tiga tahun terakhir.

Score: 7

Leave a Reply