Black Sigil: Blade of the Exiled

Game yang dirilis di Nintendo DS di tahun 2009 ini sudah menginjak usia sedekade lebih saat saya menamatkannya. Sebenarnya saat game ini dirilis di Nintendo DS dulu saya berkesempatan memainkannya – tetapi terpaksa menghentikan permainan saya dikarenakan Save File yang corrupt. Sampai pada hari ini ia menjadi salah satu RPG yang penasaran saya tamatkan – dan baru berkesempatan untuk melakukannya sekarang.

Sejarah di balik penciptaan game ini sangat panjang karena berawal di tahun 2004 saat sekelompok programmer menciptakan Project Exiled, sebuah RPG Homage Chrono Trigger dan JRPG era SNES (16-bit) lainnya untuk sistem handheld GBA. Akan tetapi ketika proyek ini sudah siap dirilis di tahun 2007 pasaran dunia handheld game sudah berubah total. GBA sudah ditinggalkan dan fokus Nintendo ada pada sistem terbaru mereka yang laris manis di pasaran: NDS. Project Exiled kemudian diperbarui lagi dengan fitur touchscreen dan layar ganda sebelum kemudian dirilis dengan nama Black Sigil: Blade of the Exiled. Apakah ia bisa menjadi game selegendaris para inspirasinya?

Karakter utama dari game ini adalah Kairu, satu-satunya sosok yang tak bisa menggunakan sihir di dunia Bel Lenora. Gara-gara ini orang-orang di sekitar Kairu memandang rendahnya. Orang-orang hanya tak berani secara terang-terangan menyerang Kairu karena dia adalah anak angkat dari Jendral Duke Averay, seorang pahlawan perang yang menyelamatkan Bel Lenora dari pengkhianatan Jendral Vai, seorang Jendral lain yang juga tidak bisa sihir. Belasan tahun yang lampau, Vai yang berkhianat kepada Bel Lenora berhasil ditumpas oleh Averay yang kemudian mengasingkan si penjahat ke sebuah gua terkutuk. Setelah Kairu berulang kali berusaha belajar sihir dan selalu gagal, terpaksa sang ayah angkat harus mengasingkan Kairu ke gua terkutuk yang sama di mana Vai dulu diasingkan.

Tak disangka oleh Averay dan Kairu, saat Kairu diasingkan ke dalam gua terkutuk itu, saudari angkatnya Aurora (anak kandung dari Averay) ternyata juga ikut serta. Belum sempat Kairu mengusir Aurora keluar dari gua supaya tidak mengikuti dia, keduanya kemudian tertransportasi secara misterius ke sebuah dunia baru. Kairu dan Aurora tiba di sebuah dunia bernama Artania, sebuah dunia yang sangat berbeda dari Bel Lenora dari mana mereka berasal. Di Artania semua justru berkebalikan karena hampir semua orang tidak bisa sihir di sini! Para penyihir justru sangat ditakuti dan dibenci oleh populasi orang kebanyakan. Apakah dunia Bel Lenora dan Artania saling berkaitan? Dan petualangan apa yang akan Kairu serta Aurora alami di dunia ini?

Kalau kalian sering memainkan game JRPG pada era SNES seperti Chrono Trigger, serial Final Fantasy, serial Breath of Fire, dan sebangsanya maka saya yakin Black Sigil akan langsung terasa familiar bagi kalian. Studio Ashcraft menciptakan sebuah game dengan estetika grafis dan musik yang sama dengan game-game yang menjadi inspirasinya itu. Kairu dan Aurora (ditambah dengan karakter-karakter lain yang bergabung nantinya) akan menjelajahi dunia fantasi Artania di World Map untuk kemudian masuk ke kota-kota, menyelesaikan masalah di kota-kota tersebut lantas melanjutkan kembali perjalanan mereka. Di tengah perjalanan kalian akan mendapatkan kendaraan-kendaraan baru yang akan membantu perjalanan kalian seperti Kapal dan nantinya Airship yang membuka mayoritas segmen di dunia Artania untuk dijelajahi.

Bicara soal kelebihan dari Black Sigil terlebih dahulu, saya sangat suka dengan kualitas cerita game ini. Walaupun cerita utamanya sendiri tergolong standar tanpa terlalu banyak plot twist yang tak bisa ditebak, saya suka dengan dialog dan banter antara karakter di game ini. Semua karakter yang terlibat di dalam game ini adalah karakter yang lovable yang semuanya memiliki alasan untuk bergabung dengan Kairu dan petualangannya. MVP dari antara kesemuanya tentunya adalah Aurora yang merupakan karakter dengan empati terbesar di game. Ia langsung mencuri hatiku ketika di awal membela Kairu yang diejek oleh orang-orang lain di Bel Lenora, dan hubungannya dengan Nephi (karakter lain di game ini) yang penuh ejek mengejek menjadi sumber tawaku saat bermain. Satu-satunya kekurangan cerita dalam game ini mungkin hanya datang dari pengakhiran (klimaks) serta ending yang kurang maksimal.

Black Sigil juga memiliki banyak sekali sidequest. Setelah paruh pertamanya yang terbilang linear, akan ada sebuah poin tertentu di tengah cerita di mana kamu diberi kebebasan untuk menjalankan banyak-banyak misi sampingan. Begitu kayanya dunia Artania yang disajikan oleh Studio Ashcraft, hampir tiap karakter di dalam game ini memiliki subquest mereka sendiri-sendiri untuk diselesaikan. Seakan itu tidak cukup, Studio Ashcraft juga menyiapkan dua karakter rahasia yang bisa kamu rekrut kalau kamu menjalankan misi-misi tertentu. Studio Ashcraft menggunakan misi-misi sampingan ini tak hanya untuk menambah longetivity permainan tetapi juga untuk menambah kaya background kisah para karakter di luar Kairu. Banyak di antara mereka yang akan mengalami ‘pertumbuhan’ dan ‘perubahan’ karakter mereka di subquest-subquest tersebut.

Saya sudah bicara panjang lebar mengenai sisi positif dari Black Sigil tetapi game ini juga memiliki banyak kelemahan. Kelemahan utamanya adalah Random Encounter yang SANGAT tinggi SEKALI. Random Encounter yang tinggi ini nyaris menjadi dealbreaker bagi saya. Saya ingin menikmati cerita dalam Black Sigil, mengeksplorasi dungeon-dungeon dengan tenang tetapi setiap saya melangkah 5 – 10 tapak saja karakterku harus melakukan Battle demi Battle demi Battle. Pada awalnya mungkin asyik tetapi di dungeon-dungeon belakangan di mana terdapat banyak puzzle yang kompleks, game ini bisa terasa sangat MENYEBALKAN dan TIDAK MENYENANGKAN. Battle system game ini pun bukan pengecualian. Kalau kalian tidak terbiasa dengan Old School JRPG jaman baheula maka kalian akan pusing dengan kesulitan dari game ini. Status Effect, serangan musuh yang lebih kuat dari rata-rata RPG biasa, serta gerakan karakter yang kaku bisa membuat setiap pertarungan terasa panjang – kalau kalian tidak paham dengan triknya. Secara singkatnya: Battle System dalam Black Sigil sangat menghargai kalau kalian memakai Skill karakter untuk menyerang musuh ketimbang menggunakan Attack biasa. Mengutak-atik karakter mana yang kalian pakai untuk Dungeon-Dungeon tertentu juga akan menjadi kunci mudah atau tidaknya pertarungan yang kalian hadapi. Semuanya ini sangat saya sayangkan, Black Sigil seakan menjadi sebuah game yang tak mau menggaet gamer baru menjajalnya dan hanya berharap pada nostalgia gamer-gamer lama untuk memainkannya.

Which is a shame, really. Ini adalah sebuah JRPG (yang diciptakan oleh orang-orang Kanada) dengan penuh cinta. Ketika deretan penciptanya muncul di akhir game, saya terharu melihat bahwa game ini praktis didesign sebesar 80% – 85% mulai dari dialog, artwork, sistem battle, sampai design dunia hanya oleh TIGA atau EMPAT orang saja. Ya saya tidak bercanda. This game is clearly a labor of love, and it shows. Mungkin karena budget yang terbatas itulah mereka tidak bisa mendapatkan cukup banyak tester untuk menjajal versi Beta game ini dan memaki-maki rate Random Encounter yang keterlaluan tingginya. Bicara soal tester yang sedikit, mungkin itu juga alasannya game ini memiliki cukup banyak Bug di dalam game yang tak sempat di’bersih’kan. Save game kalian sering-sering sebab kalian tidak akan pernah tahu kapan game ini akan crash.

Jadi apakah kalian perlu memainkan Black Sigil: Blade of the Exiled? Jawabannya… tergantung. Apakah kalian suka dengan genre Old School JRPG? Apabila iya, apabila kalian tidak memusingkan tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari biasanya serta memiliki waktu 40 – 50 jam untuk kalian luangkan bermain… kenapa tidak? Terlepas dari Battle Systemnya, cerita dan estetika audio visual dari Black Sigil masih cantik untuk dinikmati hari ini, timeless.

Score: 7

Leave a Reply