Tower of God

Dalam beberapa tahun terakhir format komik dengan gaya Webtoon mulai menjadi populer.

Format ini ditawarkan oleh beberapa Aplikasi Messaging seperti Line dan Kakao, saking populernya beberapa seri tersebut kemudian dijadikan Live Action, ambil contoh seri Itaewon Class yang sempat populer kemarin atau dwilogi film Along with the Gods.

Mengingat Webtoon memiliki berbagai macam genre dalam cerita mulai fantasi sampai slice of life, potensinya untuk diadaptasi menjadi apa saja pun terbuka luas. Dan akhirnya format anime alias animasi tak mau ketinggalan.

Di tahun 2019 lalu Crunchyroll mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi serial anime orisinil mereka sendiri dan mengadaptasi Webtoon Tower of God. Bekerja sama dengan Telecom Animation Film, Tower of God adalah proyek yang sangat ambisius bagi semua pihak yang terlibat.

Alasannya? Karena Tower of God adalah raja di atas semua format Webtoon lainnya.

Bagi mereka yang tahu dunia anime / manga, posisi Tower of God dalam dunia Webtoon setara dengan posisi One Piece di dunia manga. Selama satu dekade ia dirilis, Tower of God secara konsisten menjadi Webtoon yang paling populer dan memiliki fanbase yang paling vokal. Keberadaan dari anime ini pun sangat dinantikan. How is the result?

Tower of God adalah kisah dua insan yang berusaha mendaki sebuah Menara yang misterius: yang hanya dikenal dengan nama Tower of God.

Tidak ada yang tahu sejak kapan Menara itu berdiri, dan berapa lantai yang ada di dalamnya. Orang hanya tahu satu hal: bahwa mereka yang mencapai puncak menara itu akan dikabulkan keinginannya. Oleh karena itu, berbagai orang dari wilayah yang berbeda-beda memutuskan untuk mencoba mendaki Menara itu demi mewujudkan keinginannya.

Salah satu orang yang ingin mendaki Menara itu adalah seorang gadis bernama Rachel. Di awal animasi ini terlihat Rachel ditransportasi masuk ke dalam Tower of God, sementara teman laki-lakinya yang bernama Bam memohon kepada Rachel untuk tidak pergi meninggalkannya.

Rachel tak mempedulikan permintaan Bam. Frustasi dengan kepergian Rachel, Bam pun bergegas menyusulnya – dan ia sanggup masuk ke dalam Tower of God juga. Segera setelah Bam sanggup memasuki Tower of God, ujiannya dimulai. Bam bertemu dengan berbagai macam orang yang memiliki tujuan berbeda-beda untuk mendaki Menara itu. Beberapa menjadi rekan Bam dan beberapa lagi akan menjadi musuh Bam.

Tapi keberadaan Bam adalah hal yang unik bagi Menara ini, sebab Bam masuk ke dalam Menara tanpa diundang – yang membuat dia terposisikan sebagai seorang Irregular. Tak hanya itu, Bam juga tak memiliki hasrat mendaki Tower ini seperti orang-orang lainnya. Tujuan Bam hanyalah mencari Rachel dan mengerti kenapa Rachel meninggalkannya.

Dan dari sini epik saga Tower of God pun dimulai.

Sebelum saya lanjut mengetik mengenai review ini, saya perlu menyatakan bahwa saya bukan pembaca dari Webtoon Tower of God. Saya tahu mengenai keberadaan Webtoon ini, testimoni mengenai betapa populernya seri ini, tetapi saya tak pernah tahu menahu apapun mengenainya selain premis utama ceritanya.

Setelah menonton anime ini, saya mencari tahu sedikit lebih banyak mengenainya, sambil berjaga-jaga supaya tidak kespoileran, dan mendapatkan fakta bahwa Tower of God sekarang sudah memasuki Season ketiganya di dalam seri Webtoon. Di sisi lain, adaptasi animenya hanya mengcover keseluruhan dari Season 1 saja.

Sebagai sebuah adaptasi anime, kualitas teknis dari Tower of God cukup bagus. Penggambaran animasi dari seri ini rapi, walaupun cukup berbeda dengan gaya penggambaran penulis S.I.U. yang masih kasar di awal-awal penerbitannya dulu.

Salah satu poin terkuat yang kerap dibanggakan oleh para pecinta Webtoon ini adalah World Building dari Tower of God, dan bagi saya ini tidak ditranslasikan dengan cukup baik dalam format anime-nya.

Walaupun saya sudah menonton 13 episode di anime ini, saya masih merasa bingung dengan konsep dunia dari Tower of God. Sebenarnya ini dunia semacam apa? Apakah dunia normal manusia dengan sebuah Tower unik di tengahnya? Apakah dunia fantasi? Bagaimana hubungan antar ras di luar Tower ini? Semuanya tidak tergambar dengan jelas, sehingga membuatku agak bingung mengikutinya.

Oke saya paham kalau ini baru season 1 dan anime ini tentu saja tidak akan buka kartu mengenai semua yang ada di dalamnya, tetapi bagi saya, sampai di akhir season 1 lebih banyak tanda tanya yang muncul di kepala saya ketimbang jawaban yang saya dapatkan. Which… is not something I really like.

Hal kedua adalah background tiap-tiap karakter yang ada di cerita ini. Dalam hal ini saya netral. Ada beberapa karakter yang sepertinya memang hanya digunakan untuk lawakan di dalam kisah ini seperti Rak Wraithraiser, sehingga anime ini sama sekali tak menyinggung masa lalunya. Di sisi lain, ada juga sosok Khun Aguero Agnis dan para Putri Jahad yang memiliki masa lalu yang menarik dan membuat saya ingin tahu lebih banyak soal karakter mereka.

Ironisnya justru sang karakter utama: Bam – lah yang bagi saya tak memiliki daya tarik sama sekali. Saya merasa sebagai seorang MC, Bam adalah karakter yang ditulis dengan sangat datar, one-note, dan membosankan. Aneh.

Saya tahu bahwa karakter-karakter utama dalam komik / anime Shounen biasa memiliki satu tujuan utama dalam hidup yang menjadi pendorong dari perjalanan mereka.

Naruto ingin menjadi Hokage.
Luffy ingin menjadi Raja Bajak Laut.
Gon ingin menemukan ayahnya.
Tanjirou ingin menemukan cara menyembuhkan adiknya.

Dan Bam pun begitu. Ia ingin menemukan Rachel. Tetapi yang membuat hal ini menjadi aneh adalah, Rachel secara terang-terangan dan berulang kali sudah menyatakan kepada Bam untuk melepaskannya dan tidak mengikutinya dan melupakannya.

Bahwa Bam berulang kali, terus menerus, dan memaksa untuk mengikuti, menguntit dan mencari Rachel benar-benar tampak seperti seorang stalker yang menakutkan.

Saya berharap bahwa karakter Bam yang seperti ini bisa diubah memasuki season keduanya, dan sepertinya memang syukurlah, sebab sudah ada tanda-tanda seperti itu.

Jadi, apakah Tower of God adalah sebuah anime yang bagus? Nanti dulu. Bagi saya adaptasi ini sepertinya terlalu gegas. 13 episode memang tidak cukup rupanya untuk mengcover jalan cerita seluruh season 1. Dengan banyaknya detail Worldbuilding yang (sepertinya) dipangkas dalam anime ini, saya tidak bisa sepenuhnya merekomendasikan anime ini kepada newcomer seri Tower of God.

Saran saya: jadikan seri animenya ini sebagai sebuah companion piece. Baca dulu Webtoon-nya, dan kalau kalian ingin merasakan keseruan momen-momen terbaiknya dalam format animasi, tonton animenya. Yang jelas, setelah menonton anime dari Tower of God ini, saya jadi tertarik untuk mencoba membaca Webtoon-nya secara maraton… kalau sempat.

Score: 6

Leave a Reply