Console Wars

Bagi para gamer di awal era 1990an merk Sega dan Nintendo sinonim dengan industri Video Game. Sebelum dekade 1990an Nintendo praktis menguasai industri Video Game seorang diri selama hampir setengah dekade. Tetapi itu semua berubah saat Sega merekrut Tom Kalinske, mantan pemimpin dari Mattel untuk menjadi pemimpin Sega menghadapi Nintendo.

Kisah dari bagaimana Tom Kalinske membawa Sega menghadapi Nintendo ini pernah dikisahkan secara mendetail melalui buku Console Wars karangan Blake J. Harris. Buku ini adalah salah satu buku dengan insight mengenai dunia Video Game pertama yang dirilis di pasaran, membuat banyak gamer Retro seperti saya kesengsem membacanya. Rupanya bukan hanya saya saja yang kesengsem tetapi juga para produser serial dan film TV.

Setelah beberapa tahun melewati masa lelang skrip, akhirnya Console Wars digarap oleh stasiun TV CBS sebagai acara dokumenter spesial. Mewawancarai berbagai pihak dari Nintendo dan Sega, bisakah serial ini memberikan sebuah point of view mengenai perang besar yang terjadi di era 1990an itu dulu?

Serial ini mengangkat beberapa topik utama dalam masa itu: era awal di mana Nintendo begitu dominan tanpa pesaing, era di mana Sega mulai memasuki perang industri Video Game secara lebih serius, era di mana Sega dan Nintendo saling bersaing habis-habisan, dan diakhiri dengan blunder yang dilakukan oleh Sega sehingga membuat mereka terpaksa harus gigit jari memasuki era persaingan konsol 32-bit.

Apabila kalian membaca buku Console Wars maka tak banyak informasi baru yang akan kalian dapatkan dari sini. Rata-rata figur yang diwawancarai untuk pembuat film ini adalah para pegawai dari Sega dan Nintendo yang terlibat dalam perang bisnis di era 16-bit dulu, dan duet Jonah Tulis serta Blake J. Harris memberikan spotlight yang sepadan bagi keduanya. Baik bila kalian adalah fanboy dari Nintendo ataupun Sega, kalian tidak akan merasa kecewa menonton film ini sebab ia tidak berusaha memojokkan pihak manapun. Bahkan ketika narasi di pertengahan film terasa terlalu menggambarkan Sega sebagai underdog untuk menyerang Nintendo pun, mendadak Console Wars menjungkirbalikkan ekspektasi penonton dengan membawa mereka pada beberapa tahun silam – ketika Nintendo ada pada posisi underdog itu.

Satu-satunya hal yang mengecewakan bagiku adalah saat Console Wars berakhir pada saat perang era 32-bit hendak dimulai. Walaupun perang antara Sega dan Nintendo adalah era dari masa kecilku, momen paling penting di dunia Video Game bisa dibilang datang pada era 32-bit. Era tersebut adalah era pertama di mana game benar-benar tumbuh dewasa; tidak hanya karena game banyak menampilkan violence dan gore (seperti halnya Mortal Kombat) tetapi karena era tersebut adalah era pertama di mana grafik dan audio sebuah game mulai mampu menampilkannya sebagai pengalaman yang lebih dari sekedar gaming sederhana dan melangkah ke dunia film. Mulai dari era 32-bit lah banyak game mulai berani menampilkan jalan cerita yang jauh lebih kompleks – seperti Metal Gear Solid dan Resident Evil sampai Final Fantasy VII, dan perilisan game secara global menjadi hal yang makin biasa.

Akan tetapi saya juga paham kenapa Console Wars memutuskan untuk menutup narasi mereka sampai di sana. Sebab di era 32-bit, praktis ada sebuah konsol yang muncul tanpa bisa disaingi siapapun. Dan itu bukanlah Sega maupun Nintendo melainkan Sony Playstation. Ya, di saat Sega dan Nintendo sibuk berperang di era 16-bit mereka menjadi lengah sehingga memberi kesempatan bagi kompetitor lain: Sony Playstation untuk mendominasi pasaran. Apabila memang Console Wars kedua mau diciptakan, saya merasa bahwa era yang perlu disorot adalah era tahun 2006 – 2011 di mana Nintendo di era itu menjadi seorang underdog yang harus menghadapi dua raksasa dunia multimedia: Sony dengan Playstation 3 dan Microsoft dengan X-Box 360 nya. Tidakkah narasinya akan seru? Mungkin saja Console Wars kedua itu bisa digarap sekitar 5 – 10 tahun dari sekarang ketika generasi perang konsol menginjak iterasi pasca PS5.

Satu hal yang pasti, tidak ada yang kalah dari perang konsol ini. Nintendo hingga hari ini masih ada dan menguasai pasar hybrid antara konsol dan handheld dengan sistem Nintendo Switch mereka. Sementara Sega walaupun sudah keluar dari industri konsol masih merupakan salah satu publisher game yang terkenal, mengakuisisi beberapa tim Software terkenal termasuk Atlus dengan seri Persona-nya. Dan siapa bisa lupa kesuksesan adaptasi film Sonic the Hedgehog yang dirilis awal tahun ini? Lantas bagaimana dengan Sony? Setelah sedikit tersandung di era Playstation 3 dulu, Sony strikes back with Playstation 4 dan kembali menjadi penguasa pasar konsol.

Video Game, after all, never dies.

Score: 8

Leave a Reply