Skip to content

The Enola Holmes Mystery: The Case of the Missing Marquess

Saya baru tahu ada seri Young Adult Enola Holmes setelah filmnya dibuat oleh Netflix dan dibintangi beberapa bintang terkenal macam Henry Cavill dan Millie Bobby Brown di tahun 2020. Karena saya lumayan enjoy filmnya, saya memutuskan untuk mencari serialnya. Alasannya adalah supaya saya bisa membandingkan kisah aslinya dengan serialnya, lagipula biasanya kan Novel mengelaborasikan lebih banyak detail yang tidak tertangkap dari filmnya, biasanya karena Run Time film yang lebih terbatas.

Saya pun memulai dengan buku pertama Enola Holmes: sub-judulnya adalah The Case of the Missing Marquess.

Enola Holmes selama ini hidup dengan Ibu-nya. Ia tahu bahwa ia punya dua orang kakak laki-laki: Mycroft dan Sherlock Holmes, tetapi keduanya jarang sekali pulang rumah. Bahkan, Enola terakhir bertemu dengan keduanya saat ia masih sangat kecil – ia hampir tak punya memori akan keduanya. Diam-diam, Enola mengidolakan Sherlock yang adalah seorang Detektif jenius di London.

Suatu hari di ulang tahun Enola, sang Ibu mendadak saja menghilang. Ini membuat Enola kebingungan dan terpaksa meminta tolong kepada kedua abangnya. Ketika kedua abangnya kembali, mereka sangat terkejut menyadari realita Enola sangat berbeda dengan apa yang mereka harapkan. Sang Ibu diam-diam ternyata mengorupsi uang pendidikan bagi Enola (dan hanya mengajari anak gadisnya secara otodidak). Enola, bagaimanapun, tidak ingin disekolahkan ke asrama oleh kedua kakaknya… dan memutuskan kabur dari rumah.

Dari sini jalan cerita Enola Holmes memang cukup sama dengan filmnya… tetapi inilah yang aneh. Novel pertama ini hanya setebal 120 halaman dan saya sudah masuk hampir 2/3 cerita hanya untuk mengisahkan mengenai sosok Enola. Di film, ini hanya memakan waktu sekitar 1/4 porsi cerita sebelum kita didorong masuk ke misteri utamanya: seorang Marquee alias anak Bangsawan yang hilang.

Di novel, misteri ini baru dimulai ketika buku sudah memasuki sepertiga terakhirnya dan membuat kisahnya menjadi terasa sangat terburu-buru. Pembaca tidak diberi kesempatan untuk mengenal sosok Marquee yang hilang, kisah kehilangannya pun jauh dari harapan – terasa seperti tambalan belaka untuk menjadi kasus pertama yang ditangani oleh Enola.

Saya juga merasa kecewa dengan penggambaran setiap karakter dalam novel ini. Saya menyangka bahwa penggambaran sosok Mycroft dan Sherlock sudah agak melenceng di Film, tetapi di novel mereka makin jauh melenceng lagi. Mycroft dan Lestrade ditampilkan bak dua orang bodoh di sini sementara Sherlock, walau sedikit lebih pintar, juga tidak meyakinkan menjadi sosok Detektif tersohor. Apabila di filmnya semuanya memiliki kepintaran mereka sendiri-sendiri, di sini semua terasa bodoh – termasuk Enola.

Penyelesaian kasus di buku pertama ini berakhir dengan sangat anti-klimaks. Bukannya ada logika yang jelas mengenai bagaimana kasus ini berakhir, pembaca seakan diajak terbawa dalam kebetulan-kebetulan belaka hingga eh tahu-tahu kasusnya selesai dengan sendirinya. It is so dumb in so many levels, sampai-sampai membuatku ragu jangan-jangan Nancy Springer tidak pernah mengarang novel misteri sebelumnya? Kenapa segalanya serba tanggung?

Saya masih melanjutkan membaca novel kedua selepas membaca novel pertama – tidak dikarenakan saya menyukainya tapi karena saya sudah kepalang tanggung, saya berharap bahwa akan ada perbaikan dari kualitas misteri yang ditawarkan dan cara logika berpikir karakternya. Tapi kalau menilik keseluruhan buku pertamanya… I’m not hoping much.

Score: 4.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: