Skip to content

Soul

Tahun itu adalah tahun yang berat bagi Disney dan Pixar. Film pertama yang dirilis oleh Pixar tahun ini: Onward dirilis pada bulan Maret 2020 hanya selama beberapa minggu dan lantas ditarik dari peredaran layar lebar dikarenakan virus COVID-19 mengganas. Hasilnya, Onward menjadi film Pixar pertama yang gagal mencapai angka 100 Juta USD dalam perilisannya di domestik Amerika.

Kecamuk Pandemik COVID-19 yang tak berkesudahan di Amerika dan di seluruh dunia membuat kacau rencana Disney untuk merilis film Pixar kedua tahun ini: Soul. Akhirnya, setelah diperdebatkan secara sengit di internal Disney, mereka sepakat untuk merilis film tersebut secara eksklusif di Disney+, saluran streaming bagi Disney. Kritikus memuji Soul sebagai film Pixar yang sangat bagus, tetapi apakah benar? Bukannya saya tidak percaya kritikus, tetapi mereka cenderung menjadi sangat subyektif memuji-muji Pixar (dengan pengecualian franchise Cars).

Joe Gardner adalah seorang Guru Musik yang terobsesi untuk menjadi Pemain Musik. Ia sangat, sangat ingin membuktikan kepada orang tuanya, kepada teman-teman di sekelilingnya, bahwa dia lebih dari sekedar seorang pria yang selalu bermimpi tapi tak pernah bisa menggapai mimpinya. Dan pada akhirnya mimpi itu akan menjadi kenyataan, sebab Joe akhirnya berhasil ditawari posisi menjadi pianis dalam performa di sebuah Klub.

Tragisnya, Joe meninggal sesaat setelah mendapatkan kabar tersebut. Dan ia jatuh ke dalam apa yang bisa disebut sebagai Purgatory ‘tempat antara hidup dan mati’. Saat jiwa Joe akan berangkat menuju The Great Beyond, ia berlari-lari kembali ke dunia dan justru terjatuh ke tempat yang disebut The Great Before (Pre-Existence). Di sana Joe dimintai untuk menjadi seorang Mentor sebelum berangkat menuju The Great Beyond bagi Soul (Jiwa) yang belum terlahir. Akan tetapi murid yang harus diajari Joe ini nakal: namanya Soul 22 dan dia sudah berada di sana untuk jangka waktu yang sangat – sangat – sangat lama.

Joe sendiri tidak peduli dengan 22 sebab ia ingin kembali ke dunia dan bermain piano dalam breakthrough-nya. Sebaliknya 22 tidak ingin terlahir di dunia dan ingin selamanya tetap tinggal di The Great Before. Maka keduanya memutuskan untuk bekerja sama untuk memenuhi keinginan mereka masing-masing.

Film ini disutradarai oleh Pete Docter, dan merupakan come-backnya setelah menciptakan film Inside Out di tahun 2015. Docter adalah salah satu sutradara favorit saya dari Pixar karena saya sangat suka dengan Up dan Inside Out yang ia garap. Hanya saja bagiku film Soul ini gagal mereplikasikan kesuksesan kedua film di atas. Joe adalah sosok protagonis yang hampir sepanjang film berlaku menyebalkan, sehingga membuatku sulit simpatik dengannya.

Tambahan lagi, hubungan emosional antara Joe dan 22 flownya tidak mengalir dengan baik bagiku, membuat saya merasa bahwa scene klimaks emosional mereka di akhir film tidak terasa cukup mengena. Pun bagaimana jalan cerita film ini bergulir terasa sangat predictable. If you’ve seen many Animated Movies, you know where this movie will end. Film ini tidak berhasil menyentuh hati saya sebagaimana Inside Out, Up, Coco, dan film-film paling emosional lainnya Pixar bisa.

Saya tak ingin mengatakan Soul merupakan film yang buruk, because it isn’t. Ini masih karya Pixar dan artinya kualitas teknis film ini masih sangat bagus. Ketajaman skrip film ini juga masih terlihat di beberapa adegan, membuat kita, selaku penonton dewasa, dapat disentil oleh Pixar melalui beberapa dialog sampai visualisasi di dalam film ini. Sayangnya, semua paket itu terasa tak koheren dalam menyampaikan pesannya, membuat Soul berakhir sebagai sebuah film animasi yang… forgive the pun… soul-less.

Pada akhirnya, Pixar masih berusaha menghadirkan sebuah film animasi dengan high concept yang mungkin akan sulit dimengerti oleh anak-anak dan saya memuji keberanian mereka melakukan hal itu. Akan tetapi untuk sebuah kisah tentang afterlife, Coco masih jauh lebih saya rekomendasikan.

Score: 6.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

One thought on “Soul Leave a comment

  1. Saya gak merasa film ini sejelek itu.
    9/10, mengingatkan saya bahwa hidup gak cuman dinilai dari seberapa produktif dan menyenangkan passion-mu, tapi hargai tiap momen hidupmu. Masih di bawah “Inside Out,” lah

Leave a Reply

%d bloggers like this: