Skip to content

Rurouni Kenshin: The Final

Kalau menanyakan kepada khayalak umum mengenai cerita dari Rurouni Kenshin, rata-rata orang hanya tahu cerita detail soal pertarungannya menghadapi Makoto Shishio. Ini bisa dimaklumi sebab medium anime (yang merupakan format lebih populer untuk membuat sebuah karya mainstream) hanya menayangkan kisah di manga sampai kisah Kyoto Arc (atau Shishio Arc) saja. Padahal, setelahnya ada sebuah kisah lain yang tak kalah penting: Jinchu Arc. Ini dikarenakan saat animenya tayang, manganya pun masih berjalan sehingga produser serial anime memutuskan mengisi episode-episode di anime Kenshin dengan… well, apalagi kalau bukan Filler?

Episode-episode Filler di Rurouni Kenshin kentara mengalami sebuah drop yang drastis dibandingkan kualitas kisah di manganya, membuat rating anime tersebut jatuh dan ditamatkan secara prematur sebelum kisah Jinchu dianimasikan. Selama bertahun-tahun lamanya kalau orang ingin menikmati kisah Jinchu, mereka hanya bisa membaca manga dan melihat beberapa highlight dari kisah tersebut di dua OVA Kenshin yang dirilis di awal dekade 2000an.

Ketika Rurouni Kenshin diadaptasi menjadi film live action layar lebar di 2012 dan digenapi menjadi trilogi dengan dua film sekuel di tahun 2014, sepertinya adalah sebuah no-brainer untuk melengkapi sekalian saga Kenshin dengan kisah Jinchu Arc. Walaupun film ini sebenarnya sudah hendak diproduksi, mendadak mereka menemui hambatan setelah Emi Takei – yang memerankan Kaoru Kamiya – malah hamil. Tak lama kemudian pukulan lebih besar menghadapi franchise ini, di mana sang pengarang Nobuhiro Watsuki kena kasus pornografi anak. Saat info ini mencuat, saya jujur saja sudah pesimis bahwa kisah Jinchu Arc bakalan dibuat.

However, against all odds, ternyata adaptasi Rurouni Kenshin untuk kisah Jinchu Arc tetap berlanjut. Hasilnya adalah dua film: Rurouni Kenshin: The Final dan Rurouni Kenshin: The Beginning. Bagaimanakah hasil dari perjuangan (sangat lama) untuk mengadaptasi film ini ke versi layar lebarnya?

Setelah pertarungannya dengan Shishio usai, Kenshin kembali menjalani hari-hari damainya di dojo milik Kaoru. Hari-hari tenang itu terusik setelah seorang pria dari Cina datang ingin membalas dendam kepada Kenshin. Mengingat Kenshin dahulunya adalah seorang Hitokiri Battousai, tidak mengherankan kalau ada orang-orang dari masa lalunya yang ingin menghabisinya. Tetapi dendam pria Cina ini lebih dari sekedar urusan negara saja dengan Kenshin: melainkan urusan personal.

Sosok yang membenci Kenshin itu adalah pria bernama Enishi Yukishiro, adik ipar dari Kenshin. Wait, what? Jadi Kenshin sudah pernah menikah dulunya? Bagi kalian yang hanya tahu serial TV anime Kenshin saja mungkin akan terkejut dengan fakta ini… but yes, Kenshin pernah memiliki seorang istri dulu. Dan film ini adalah kisah mengenai bagaimana Kenshin harus menghadapi tantangan masa lalu terbesarnya.

Kisah Jinchu Arc adalah kisah yang lebih pendek dibandingkan Kyoto Arc (dan itu ditambah dengan kisah flashback yang memakan hampir 2 volume). Saya tidak heran bahwa para produser film ini memutuskan untuk membelahnya menjadi dua bagian saja. Yang saya tidak pahami adalah kenapa mereka memutuskan untuk membaginya seperti… ini.

Tanpa ingin memberikan spoiler apapun, banyak momen-momen apik yang seharusnya akan lebih menohok bila dituturkan secara kronologis. Saya memang belum menonton Rurouni Kenshin: The Beginning, tetapi dari melihat film ini saja saya merasa bahwa film The Beginning akan memiliki beberapa shot yang diulang-ulang dari The Final. Saya juga tidak paham kenapa The Final dirilis terlebih dahulu daripada The Beginning. Saran saya bagi kalian yang belum menonton film ini: tunggu dulu, tonton dulu The Beginning, lantas baru menonton The Final.

Terlepas dari kelemahan kecil itu, saya tidak ingin banyak protes mengenai film ini. It’s still a very gorgeous movie. Terlihat bahwa film ini tidak berusaha mengirit budget dengan menghadirkan berbagai lokasi Jepang yang didesign mirip dengan jaman dahulu kala. Kalian yang kangen dengan karakter-karakter di Rurouni Kenshin juga bisa bernostalgia dengan beberapa karakter terkenal yang turut muncul di film ini. Tentu saja, dari deretan castingnya Takeru Satoh tetap tampil prima. Saya merasa bahwa ia tak sepenuhnya berhasil menampilkan sisi Kenshin yang jenaka – tetapi semakin saya menonton gaya Satoh, semakin saya mengapresiasi aktor ini. And hey, he did most of his own stunts. That’s amazing!

Di antara deretan aktor pendatang, beban terbesar terletak pada pundak Mackenyu. Anak dari aktor kenamaan Sonny Chiba ini menunjukkan bakat martial arts yang tak kalah dari sang Bapak. Gaya bertarung yang berbeda antara Kenshin dan Enishi terlukiskan dengan baik di sini. Salut kepada koreografer aksi film ini. Apabila film aksi terbaik adu jotos ada pada dwilogi The Raid, kalau dengan senjata pedang jelas milik franchise Rurouni Kenshin.

Saya tidak heran sih. Kenji Tanigaki – Action Director film ini – sudah lama sekali bekerja dengan Donnie Yen dan dipercaya memegang koreografi film-film martial arts Hong Kong yang tenar seperti Bodyguards and Assassins, Flash Point, sampai Legend of the Fist. Kalau kalian masih ingin menonton karya-karyanya lebih lanjut – jangan khawatir. Kenji Tanagaki akan menjadi koreografer aksi dari film GI Joe yang terbaru nanti: Snake Eyes. Saya pribadi penasaran apa yang bisa Kenji suguhkan bila mendapatkan budget studio Hollywood! (Catatan: Film ini saya tonton sebelum Snake Eyes, and that movie is a total crap)

Maka, Rurouni Kenshin: The Final pada akhirnya adalah penutup yang manis bagi saga sang Samurai X. Loh, kok sudah penutup? Lantas bagaimana dengan Rurouni Kenshin: The Beginning? Mengingat film tersebut didesign sebagai Prekuel dari seluruh film Kenshin maka penutup yang sebenarnya adalah The Final – walaupun secara kronologi memang masih ada The Beginning. And what a marvelous way it is to end the franchise.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

3 thoughts on “Rurouni Kenshin: The Final Leave a comment

  1. Sudah jadi rahasia umum kalau sutradara Hongkong ngasih kebebasan penuh buat penata laga ngatur adegan laga, malah action choreographer seringkali disebut action director. Soalnya mereka buka cuma bikin koreografi, tapi juga sekaligus ngatur kamera, lighting sampai editing untuk bagian action.
    Kenji Tanigaki pernah cerita kalau dia gak nyangka sutradara Rurouni Kenshin ngasih kebebasan penuh kayak sutradara Hongkong. Makanya seri Ruroken the movie bisa keren gitu semua adegan fight. The Raid juga kan kolaborasi trio Evans, Iko dan Yayan untuk ngatur semua adegan fight.

    Nah, Hollywood sama sekali beda. action choreographer ya cuma bikin koreografi sambil melatih para aktor untuk siap melakukan adegan laga. Sisanya pas syuting, semua dibawah arahan sutradara. Gak heran penata laga bagus kayak Iko Uwais disuruh garap adegan action film Mile 22 jadinya crappy gitu, mana editingnya pas fighting ancur abis.
    Sama aja dengan Snake Eyes. Kenji Tanigaki cuma bikin koreografi, di lapangan yang ngatur sutradaranya termasuk edit hasil syuting.. Hasilnnya ya shitty fight scene.

    • Sayang ya bro Ando. Padahal kita lihat kalau diberi kebebasan bisa jadi keren. Semoga The Expendables 4 dan John Wick 4 keren action scene-nya.

      • Gak tau kalau Expendables, tapi sutradara John Wick kan emang dulunya action choreographer merangkap stuntman.
        Chad Stahelski itu temannya Bandon Lee (anaknya Bruce Lee) pas sama2 belajar Jet Kun Do. Jadinya saya yakin action dalam seri John Wick ada jaminan bermutu bagus

Leave a Reply to AnDo Cancel reply

%d bloggers like this: